Mafia Rokok Ilegal di Jambi Menggila: Demo Masyarakat Dihadang, Aparat Terkesan Lepas Tangan
MALALAIPOS,JAMBI - Aroma amis kongkalikong menyeruak dari depan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP B Jambi, pertengahan pekan ini. Sebuah demonstrasi yang digalang oleh Gerakan Tangan Rakyat (GETAR) Provinsi Jambi berujung antiklimaks yang getir. Bukan karena massa membubarkan diri dengan tertib, melainkan karena hadirnya kepungan preman yang diduga kuat dikerahkan oleh jaringan mafia rokok ilegal demi membungkam suara kritis masyarakat.
Ironisme memuncak di lapangan. Di saat massa aksi mendapat intimidasi verbal hingga ancaman secara terbuka, aparat kepolisian dari Polresta Jambi yang berada di lokasi justru memilih bersikap pasif. Alih-alih bertindak sebagai pelindung hak konstitusional warga negara, korps berseragam cokelat itu terkesan membiarkan aksi premanisme merajalela demi membubarkan unjuk rasa.
Dugaan kuat mengarah pada satu titik ialah kelompok preman tersebut sengaja dimobilisasi oleh aktor intelektual di balik bisnis hitam rokok tanpa pita cukai yang kian menggurita di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Lemahnya pengawasan dari Bea Cukai Jambi disinyalir menjadi karpet merah bagi meroketnya distribusi komoditas ilegal ini. Informasi yang dihimpun, menunjukkan peredaran produk tanpa pita cukai ini tak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi di lorong gelap perdagangan. Berbagai merek rokok ilegal kini dipajang secara vulgar di etalase grosir hingga toko kelontong.
Sedikitnya ada puluhan merek rokok ilegal yang kini membanjiri pasar, di antaranya merek populer seperti AO, Duta, Zeez, Rasta, Slava, Oris, Lufman, Smith, Manchester, Gess, hingga Titan.
Jalur distribusinya pun telah menggurita secara sistemik di wilayah-wilayah strategis Provinsi Jambi. Mulai dari jantung Kota Jambi, Muaro Jambi, Muaro Bungo, Tebo, Sarolangun, Merangin, hingga wilayah barat seperti Kerinci dan Sungai Penuh.
Menjamurnya merek-merek ini memicu tudingan miring adanya kongkalikong dan setoran berdarah yang melibatkan oknum internal Bea Cukai serta aparat penegak hukum setempat. Tanpa adanya lampu hijau dari dalam, mustahil bisnis yang merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah ini bisa melenggang mulus menembus barikade hukum antardaerah.
"Kami tidak akan mundur. Diamnya aparat dan hadirnya preman justru mempertegas sinyal bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang dilindungi di balik bisnis rokok ilegal ini," ketus salah satu perwakilan massa aksi dengan nada geram.
Di sisi lain, respons membingungkan justru datang dari internal Polresta Jambi. Saat dikonfirmasi mengenai keberadaan aparat yang pasif di lokasi kejadian, Kanit Sosbut Intelkam Polresta Jambi, Mangasa Simbolon, memberikan pembelaan yang mengesankan adanya miskoordinasi akut di tubuh kepolisian.
Simbolon mengklaim dirinya sedang berada di depan Markas Polda Jambi untuk mengurus agenda demonstrasi lain. Menurutnya, personel yang berada di lokasi KPPBC Jambi mayoritas adalah anggota dari Polsek Jambi Timur.
"Nah itu anggota saya sama orang Jambi Timur, yang banyak pakaian dinas itu orang Jambi Timur. Anggota saya ada satu di situ. Ternyata aksinya batal. Makanya saya bingung ada kejadian intimidasi gitu," kata Simbolon saat dihubungi.
Saat ditanya mengenai identitas orang dalam video yang menjegal massa aksi dari GETAR, Simbolon menjawab singkat, "Itu LSM informasinya."
Namun, ketika didesak lebih jauh mengenai dugaan kepolisian sengaja membiarkan preman bayaran dari mafia rokok mengintimidasi demonstran, Simbolon langsung melempar handuk. "Itu kurang tahu saya. Itu bukan bidang kita, kita hanya mengurusi demonya saja," dalihnya.
Sikap defensif dan saling lempar tanggung jawab ini kian menebalkan kecurigaan publik. Saat dikonfirmasi, Ketua Gerakan Tangan Rakyat (GETAR) Provinsi Jambi, Dendi Ridho, membeberkan fakta yang jauh lebih kelam. Mereka ternyata telah dicekal bahkan sebelum sempat menginjakkan kaki di depan Kantor Bea Cukai Jambi.
"Kami dibawa paksa oleh beberapa orang yang bernama Kapsun dan Amir. Kami juga langsung dibawa ke rumah Baron," ungkap Dendi.
Dendi menambahkan, di lapangan, sosok pria berbaju oranye bernama Amir tampil dominan melakukan intimidasi. Secara mengejutkan, Amir bahkan blak-blakan mengakui keterikatannya dengan bisnis haram tersebut.
"Amir mengatakan kepada kami bahwa ia memiliki merek rokok yang diduga ilegal seperti Rasta dan Slava. Awalnya kami menduga Amir seorang preman suruhan, tetapi klaim dia dari LSM. Tapi entah dari LSM mana, kami tidak tahu karena dia tidak menyebutkan detail," jelas Dendi.
Lebih lanjut, Dendi juga membantah klaim polisi yang menyatakan ada pengamanan di lokasi titik kumpul. "Kami tidak melihat adanya polisi yang menjaga di sana. Tidak ada polisi di lokasi titik kumpul kami di depan Bea Cukai," tegasnya.
Sikap abai aparat dan keberingasan preman ini menyisakan pertanyaan besar yang menuntut jawaban instan dari Mabes Polri dan Dirjen Bea Cukai. Ketika hukum kalah di jalanan oleh kepalan tangan preman, siapakah sebenarnya yang mengendalikan hukum di Jambi? Apakah negara, ataukah kuasa hitam mafia rokok?