MALALAIPOS, SUNGAIPENUH – Proyek normalisasi Sungai Batang Merao yang dikerjakan oleh PT WIKA di Desa Paling Serumpun, Kecamatan Hamparan Rawang, kini menuai protes dari warga setempat.
Tembok penahan banjir (dam) yang seharusnya melindungi pemukiman warga justru runtuh akibat pengerjaan proyek tersebut dan hingga kini dibiarkan tanpa perbaikan.
Tentunya Reruntuhan tembok tersebut memicu kecemasan mendalam bagi masyarakat. Mengingat cuaca yang tidak menentu, warga khawatir jika debit air Sungai Batang Merao kembali meluap, ketiadaan tembok penahan akan mengakibatkan banjir besar yang langsung menghantam rumah-rumah penduduk.
"Kami sangat khawatir, apalagi sekarang sudah mulai masuk musim penghujan. Kalau tidak segera diperbaiki, desa kami bisa terendam jika air sungai naik," ujar salah seorang warga setempat.
Masyarakat meminta pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI selaku instansi terkait untuk segera bertindak tegas. Warga mendesak agar BWSS VI memanggil pihak manajemen PT WIKA untuk mempertanggungjawabkan kerusakan yang terjadi.
PT WIKA diminta tidak lepas tangan atas kerusakan infrastruktur yang terjadi selama masa normalisasi, Proses rehabilitasi tembok penahan banjir harus dilakukan sebelum intensitas hujan semakin tinggi.
Selain itu, Warga juga mempertanyakan kualitas pengerjaan normalisasi yang justru berdampak pada integritas struktur tembok yang sudah ada, belum lagi longsor tebing yang terjadi akibat normalisasi yang dinilai asal- asalan beberapa waktu lalu.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Paling Serumpun masih menunggu respons resmi dari pihak kontraktor maupun BWSS VI. Warga berharap keluhan mereka tidak diabaikan, mengingat tembok penahan tersebut adalah pertahanan utama desa dari ancaman luapan Sungai Batang Merao.
"PT WIKA harus bertanggung jawab atas semua ini. Jangan sampai setelah proyek dianggap selesai, masalah justru ditinggalkan kepada kami," pungkas warga dengan nada kecewa. (Red)