Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi di Desa Muara Danau Mendapat Perhatian Masyarakat

[email protected] 24 Mei 2026 2 menit baca
Bagikan:
Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi di Desa Muara Danau Mendapat Perhatian Masyarakat

MALALAIPOS, EMPAT LAWANG– Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Desa Muara Danau, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang, Sabtu (23/5/2026), mendapat perhatian dan tanggapan dari masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Empat Lawang yang turut hadir, Miko Tri Bagas, menilai film tersebut menggambarkan keresahan masyarakat Papua terhadap persoalan eksploitasi hutan, tanah adat, dan kehidupan masyarakat pribumi yang terdampak oleh berbagai kepentingan di wilayah mereka.


Menurutnya, film Pesta Babi bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan bentuk suara dan kritik sosial dari masyarakat Papua mengenai pentingnya menjaga tanah adat, lingkungan, dan hak masyarakat lokal agar tidak hilang akibat eksploitasi alam yang berlebihan.


“Film ini memperlihatkan bagaimana keresahan masyarakat Papua terhadap eksploitasi hutan dan tanah adat mereka. 


Banyak pesan yang dapat dipetik, terutama soal pentingnya menjaga alam, budaya, dan hak masyarakat adat agar tidak hilang,” ujar Miko Tri Bagas.


Ia menegaskan bahwa kondisi serupa jangan sampai terjadi di Kabupaten Empat Lawang. 


Menurutnya, masyarakat harus memiliki kepedulian bersama terhadap lingkungan, hutan, dan tanah warisan leluhur yang selama ini menjadi identitas masyarakat setempat.


“Hal seperti ini jangan sampai terjadi di Kabupaten Empat Lawang. Kita memiliki tanah leluhur, hutan, dan wilayah adat yang harus dijaga bersama.


Jangan sampai warisan yang sudah diberikan oleh nenek moyang hilang karena kita tidak peduli,” katanya.


Miko juga menyampaikan bahwa masyarakat pribumi Empat Lawang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga serta melestarikan tanah puyang atau tanah warisan leluhur agar tetap bisa dinikmati generasi mendatang.


“Tugas kita bersama adalah menjaga dan melestarikan apa yang telah diwariskan kepada kita.


Tanah puyang ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga sejarah, identitas, dan masa depan anak cucu kita nanti,” lanjutnya.


Ia menambahkan, apabila suatu saat terjadi hal-hal yang mengancam tanah leluhur dan lingkungan masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, maka masyarakat harus bersatu untuk mempertahankannya.


“Kalau sampai hal seperti itu terjadi di Empat Lawang, hanya ada satu kata, lawan. 


Karena menjaga tanah leluhur adalah bentuk menjaga harga diri dan masa depan masyarakat,” tegasnya.


Pemutaran film berlangsung aman, lancar, dan kondusif meski sempat diguyur hujan. 


Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film juga berjalan hangat dan penuh antusias dari masyarakat yang hadir.

Post Views: 176

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar