Danau Lingkat: Surga Tersembunyi di Lekuk 50 Tumbi, Antara Alam, Budaya, dan Jiwa

Admin 20 Juni 2025 3 menit baca
Bagikan:
Danau Lingkat: Surga Tersembunyi di Lekuk 50 Tumbi, Antara Alam, Budaya, dan Jiwa

Malalai Pos - Kerinci,  Di jantung kawasan hutan adat Lekuk 50 Tumbi Lempur, tersimpan sebuah danau alami yang belum banyak dijamah wisata massal. Namanya Danau Lingkat, danau eksotis yang terletak di Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi. Meski hanya berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Sungai Penuh, keindahan dan ketenangan yang disajikan Danau Lingkat terasa seperti memasuki dunia yang berbeda—alam yang masih perawan, hutan tropis yang lebat, dan air danau hijau kebiruan yang menenangkan jiwa.

Dengan ketinggian sekitar 1.100 mdpl, Danau Lingkat menyambut setiap pengunjung dengan suasana sejuk dan sunyi. Jalan menuju lokasi dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, meskipun jalanan berbatu dan tanah merah menjadi tantangan tersendiri—tantangan yang sepadan dengan pemandangan yang menanti.

Hutan di sekeliling danau merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sekaligus hutan adat masyarakat Lempur. Pepohonan menjulang tinggi menjadi pelindung alami danau, sementara kicau burung dan semilir angin menjadi alunan simfoni yang menyempurnakan kedamaian tempat ini.

Namun, Danau Lingkat bukan sekadar destinasi wisata biasa. Inten Sutera, pengelola kawasan, menegaskan bahwa danau ini adalah ruang hidup. “Ini bukan hanya tempat wisata lama,” ujar Inten kepada Malalai Pos. “Di sini ada sinergi antara alam, budaya, dan spiritualitas. Kami merawatnya tidak hanya sebagai tempat wisata, tapi sebagai tempat untuk kami bertumbuh.”

Inten menyebut bahwa masyarakat setempat menjadikan Danau Lingkat sebagai bagian dari kearifan hidup. Larangan adat seperti tidak boleh menggunakan perahu bermesin, atau larangan berenang sembarangan, bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap tempat yang dianggap suci. Masyarakat percaya, danau ini menyimpan kisah mistis tentang seorang gadis Desa Selampaung yang hilang secara misterius setelah menumpangi perahu—sejak saat itu, hanya rakit bambu yang diperbolehkan mengarungi danau.

Legenda lain menyebutkan adanya pemandian mitologis “tujuh putri dewa” di salah satu sudut danau. Konon, pada waktu-waktu tertentu, muncul aroma harum dan bunga-bunga dari dasar danau, menjadi pertanda kehadiran yang tak kasat mata.

Danau Lingkat juga menjadi bagian dari jalur ekspedisi lima danau di kawasan Lempur: Danau Duo, Danau Kaco, Danau Nyalo, Danau Kecik, dan Danau Lingkat sendiri. Seluruhnya diintegrasikan dalam konsep ekowisata berbasis budaya dan konservasi yang dijalankan oleh masyarakat adat bersama pengelola lokal.

Meski belum dilengkapi fasilitas wisata modern, seperti restoran atau penginapan di sekitar danau, pengunjung hanya dikenakan biaya retribusi Rp.5000 dan bebas menikmati keindahan alam sepuasnya. Namun, pengunjung disarankan membawa perbekalan sendiri dan menjaga kebersihan serta sopan santun selama berada di area danau.

Danau Lingkat bukan hanya cermin dari keindahan alam, tetapi juga cerminan dari kearifan masyarakat yang hidup selaras dengan lingkungannya. Di sinilah tempat di mana alam, budaya, dan spiritualitas tidak hanya berdampingan—tetapi menyatu menjadi satu harmoni.

PNF/WL

Post Views: 395

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar