MALALAIPOS, SUNGAIPENUH – Sebuah pesan yang diduga salah terkirim ke grup WhatsApp yang beranggotakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Sungai Penuh menjadi perhatian publik. Pesan bertuliskan, "Abg ke rumah ibu ya sayang," yang diduga dikirim oleh seorang ASN berinisial S itu kemudian dihapus. Namun, jejak digitalnya lebih dulu terbaca oleh sejumlah anggota grup.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak yang diduga sebagai pengirim. Belum pula terdapat bukti yang memastikan kepada siapa pesan tersebut ditujukan maupun konteks sebenarnya. Karena itu, segala dugaan yang berkembang di masyarakat belum dapat dipastikan kebenarannya.
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai asumsi yang beredar, peristiwa ini menyisakan satu pertanyaan besar: sejauh mana disiplin dan etika komunikasi aparatur negara dijaga di ruang-ruang komunikasi resmi?
Bagi seorang ASN, grup komunikasi kedinasan bukan sekadar ruang percakapan biasa. Di dalamnya melekat tanggung jawab, kehormatan profesi, dan citra institusi pemerintah. Kelalaian sekecil apa pun dapat menjadi konsumsi publik dan berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi.
Di era digital, jejak komunikasi sulit dihapus dari ingatan publik. Menghapus pesan tidak serta-merta menghapus pertanyaan yang telah muncul. Yang dibutuhkan justru adalah keterbukaan dan klarifikasi agar ruang publik tidak dipenuhi spekulasi.
Publik tentu tidak berkepentingan mencampuri urusan pribadi siapa pun. Namun publik berhak berharap agar aparatur pemerintah menjaga profesionalisme dalam setiap aktivitas yang menggunakan media komunikasi kedinasan. Kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi dibangun bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui sikap, etika, dan keteladanan.
Hingga tulisan ini diterbitkan, pihak yang diduga sebagai pengirim pesan berinisial S belum memberikan klarifikasi. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab sebagai bentuk penghormatan terhadap asas keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik. (Tim)